Tolong Kembalikan Rasa Takutku

Rasa takut disini adalah pergerakan hati, ia hadir sebagai penyeimbang saat manusia mulai lupa karena terlena dan sibuk oleh dunia. Juga rasa takut  yang bisa menumbuhkan kekhawatiran akan ancaman dan adzab Allah, sehingga ketika manusia mulai melupakan rasa ini, stabilitas keimanan dan rasa kehambaan akan semakin terkikis.

Kata Khasyyahwajalrahbah dan haibah adalah kata-kata memiliki makna yang sama, namun tidak sinonim dengan kata “takut” dalam segala sudutnya, tetapi kata Khasyyah lebih spesifik dari kata khauf, maka kata khasyyah adalah takut akan Allah dengan kualitas ilmu akan sifat-sifatNya sebagaimana Allah Swt berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. (Fathir: 28)

Wajal adalah gejolak hati karena mengingatNya, yang karena kekuasaan dan azabNya menjadi ditakuti.

Rahabah adalah lari dan menjauh dari hal-hal yang dibenci.

Dan Haibah adalah rasa takut yang dibarengi dengan pengakuan akan kebesaran Allah dan pengagungan kapadanya.

Ibn al-Qayyim –rahimahullah- Berkata,

“Rasa takut (khauf) bagi ummat beriman secara umum, dan khasyyah bagi para ulama yang berpengetahuan, haibah bagi para pecinta, penghormatan bagi mereka yang senantiasa mendekatkann diri, dan munculnya khasyyah serta khauf  tergantung pada kadar ilmu dan pengetahuan seseorang.” (Madarij al-Salikin.)

 

“Sekali lagi, aku mohon kembalikan rasa takutku padaNya”.

“Sekali lagi, tolong kembalikan airmata takutku padaNya”.

Pernahkan kita berfikir dan merasakan tingkat kehawatiran yang seperti itu?

Terlepas ditujukan kepada siapa pertanyaan itu, yang jelas pertanyaan  itu lahir dari hamba Allah yang begitu besar merasakan kehawatiran atas hilangnya kenikmatan anugerah itu.

Syaikh Ka’bul Ahbar berkata, “Sungguh, aku lebih suka menangis karena Allah, lalu air mataku mengalir diatas pipiku, daripada bersedekah dengan emas seberat timbanganku.” (Hilyatul Auliya’ 5/366)

Juga Syaikh Sufyan berkata: “Menangis itu ada 10 macam, yakni 9 karena selain Allah dan satu karena Allah. Bila menangis karena Allah itu datang sekali dalam setahun, maka itu sudah terbilang banyak.” (Hilyatul Auliya’ 7/11)

Sebagai seorang awam mungkin kita berfikir, kenikmatan seperti apa yang beliau dapatkan hingga sampai membuat ungkapan seperti itu? Sebegitu nikmatnya kah? Sebegitu sulitnya kah menghadirkan rasa itu?

Ya, memang begitu nikmat dan teramat sulit menghadirkan rasa itu.

Sekarang yang menjadi pertanyaan “mengapa bisa demikian?” karena hati kita terlalu keras dan membeku hingga susah menghadirkan rasa itu. Lagi-lagi yang menjadi takarannya adalah seberapa besar rasa mahabbah kita kepada Robbul ‘Izzah yakni Allah SWT.

Dan siapakah sebenarnya yang sudah merampas? atau jangan-jangan  kita belum pernah kehilangan sama sekali, karena kita memang belum sekalipun mendapat anugerah itu?

Manusia sendirilah yang merampas kenikmat munajatnya, dengan sifat tamaknya ia tutup pintu hidayah, dengan sifat riya’nya ia tarik kembali amal-amalnya hingga tidak pernah sampai ke Allah, dengan sifat takabburnya ia merasa sudah tidak lagi butuh dengan pertolongan Allah, dengan sifat ujub dan sum’ahnya ia sia-siakan setiap ibadahnya, dengan sifat hubbuddunya-nya ia lupa bahwa itu hanya akan membawanya kepada kematian hatinya.

Uwais al Qarni pernah berkata seperti yang tercantum dalam Bahjatul Majalis karya Ibnu Abdil Barr:

“Memohonlah kepada Allah supaya memperbaiki hati dan niatmu, karena tidak ada sesuatu yang paling

berat untuk kau obati selain keduanya. Ketika hatimu sedang menghadap (Allah) maka seketika mungkin

untuk berpaling, maka ketika menghadap itulah engkau harus merampasnya supaya tidak berpaling.”

Hingga Rasulullah pernah bersabda:

“Puncak kebijaksanaan ialah takut kepada Allah. Sebaik-baik yang tertanam dalam hati adalah keyakinan. Keragu-raguan (dalam beriman) termasuk kekufuran”.  (HR. Al-Baihaqi)

Sebagai penutup, mari  tela’ah kembali hati. Masih ada kah rasa takut kita kepada Allah? Kapan terahir kali kita teteskan air mata takut meski  itu hanya sebesar kepala lalat karena takut juga rindu kepada Allah?

Di banding cucuran airmata yang keluar karena menangisi dunia? Juga ketakutan yang teramat sangat ketika nikmat dunia diangkat/diambil lagi oleh sang pencipta?

Karena “Barangsiapa takut kepada Allah, maka Allah menjadikan segala sesuatu  takut kepadanya. Barangsiapa tidak takut kepada Allah, maka Allah menjadikannya takut kepada segala sesuatu”.  (HR. Al-Baihaqi)

 

“Ilaahi Anta Maqsuudi Waridlooka Mathluubi” (wallahu a’lam)

 

 

 

Sumber: http://tanbihun.com/
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s