Kenikamatan Duniawi Mencoba Memasuki Hidupku Untuk Merusak Akhiratku

Betapa sedih Amirul Mukminin Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhu ketika membaca daftar penduduk orang-orang miskin negeri Himsh. Berada para urutan pertama tertulis nama yang tidak asing lagi, Said bin Amir.

Padahal Said bin Amir adalah Gubernur di Himsh. Sejak pertama kali diangkat jadi Gubernur sampai beberapa tahun kemudian saat didata orang-orang miskin, Said bin Amir masih jadi orang miskin nomor satu di negeri yang dipimpinnya sendiri.

Aneh, jadi gubernur kok miskin terus?

Memang begitulah perilaku Said bin Amir. Jabatannya tidak mengubah kekayaannya. Malah baju yang melekat di badannya adalah memang satu-satunya yang dimilikinya. Maka wajar kalau dia minta satu hari dalam seminggu untuk libur, karena harus mencuci bajunya. Itu adalah kesaksian penduduk Himsh tentang kesederhanaan sang gubernur.

Maka Umar pun menitipkan 100 dinar emas dalam kantung kepada utusan agar diberikan kepada sang gubernur yang wara’ itu. Biar bagaimana pun, sebagai gubernur, Said bin Amir berhak menerima gaji atas kerjanya.

Namun saat utusan menyampaikan kantung berisi 100 dinar, Gubernur Said bin Amir langsung beristirja’, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun’. Sebuah reaksi yang aneh memang.

Mendengar kalimat duka seperti itu, istri Gubernur Said tergopoh-gopoh masuk ruangan menemuinya sambil terkejut dan bertanya,”Kok inna lillahi, memangnya siapa yang meninggal dunia?”. Gubernur Said bin Amir hanya mengulangi lagi istirja’-nya. ‘inna lillahi wa inna ilaihi rajiun’.

Si istri makin penasaran,”Katakan wahai suamiku, siapa yang meninggal?”. Said bin Amir tetap mengucapkan lafadz ‘innalillahi wa inna ilaihi rajiun’.

Si istri mulai menduga-duga, karena ada utusan dari Madinah, jangan-jangan utusan ini membawa kabar buruk tentang meninggalkan Umar bin Al-Khattab. Penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, diulangi lagi pertanyaannya,”Bilang terus terang, suamiku. Apakah Amirul Mukminin Umar bin Al-Khatab wafat?”.

Kali ini Gubernur Said bin Amir menjawab,”Bahkan lebih dahsyat dari sekedar wafatnya Amirul Mukminin”.

Wah, peristiwa apa yang telah terjadi, kok sampai lebih dahsyat dari wafatnya Umar?, begitu pikir si istri.

“Kekayaan duniawi telah mencoba memasuki kehidupanku untuk merusak akhiratku”, tukas Said bin Amir sambil mengangkat kantung berisi 100 dinar emas di tangannya.

Si istri sama sekali tidak tahu, apa status uang dalam kantung itu, karena Gubernur memang tidak memberitahu bahwa statusnya. Padahal sebenarnya uang itu adalah gaji sah dan resmi yang diberikan oleh Amirul Mukminin kepada suaminya.

“Apa yang bisa saya bantu, untuk dapat menyelamatkanmu, wahai suamiku?”, tanya sang istri dengan polos.

“Bagikan saat ini juga harta dalam kantung ini kepada seluruh fakir miskin di Himsh”, jawab sang Gubernur.

Maka saat itu juga si istri yang shalihah ini segera berkeliling negeri Himsh membagikan uang kepada fakir miskin. Dia tidak tahu, uang itu sebenarnya adalah uang gaji suaminya yang sah dan halal 100%.

Tetapi begitulah standar moral seorang gubernur di masa Umar. Khalifah yang amat sederhana itu telah mengangkat gubernur yang tidak kalah sederhananya.

Baju yang melekat di badan Umar adalah baju satu-satunya, dengan hiasan 40 tambalan. Padahal Umar adalah penguasa 3 imperium dunia, Romawi, Mesir dan Persia.

Kekayaan duniawi dicegah dan ditolak untuk memasuki kehidupannya, agar tidak merusak ‘akhiratnya’.

Di kutip dari tulisan :Ahmad Sarwat

(mengenang Umar bin Al-Khattab dan Said bin Amir)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s