Muhammad SAW Penutup Para Nabi & Hubungan Dakwahnya Dengan Dakwah2 Samawiyah Terdahulu.

[Disalin dari buku Sirah Nabawiyah karangan Dr. Muhammad
Sa`id Ramadhan Al Buthy, alih bahasa (penerjemah): Aunur Rafiq Shaleh,
terbitan Robbani Press.]

Muhammad SAW Penutup Para Nabi dan Hubungan Dakwahnya dengan Dakwah-dakwah
Samawiyah Terdahulu

Muhammad saw adalah penutup para Nabi. Tidak ada nabi sesudahnya. Ini telah
disepakati oleh kaum Muslimin dan merupakan salah satu “aksioma” Islam. Sabda
Rasulullah saw :“Perumpamaan aku dengan Nabi sebelumku adalah seperti seorang
lelaki yng membangun sebuah bangunan, kemudian ia memerintahkan dan
mempercantik bangunan tersebut, kecuali satu tempat batu-bata di salah satu
sudutnya. Ketika orang-orang mengitarinya, mereka kagum dan bertkata : “Amboi,
jika batu-bata ini diletakkan?” Akulah batu-bata itu, dan aku adalah penutup
para Nabi.“ (HR bukhari dan Muslim )

Hubungan antara dakwah Nabi Muhammad dan dakwah para Nabi terdahulu berjalan
atas prinsip ta’kid (penegasan) dan tatmin (penyempurnaan) sebagaimana
disebutkan dalam hadits di atas.

Dakwah para Nabi didasarkan pada dua asas. Pertama: aqidah, kedua: syari’at
dan akhlak. Aqidah mereka sama, dari Nabi Adam as sampai kepada Nabi penutup
para Nabi (Muhammad saw). Esensi aqidah mereka adalah iman kepada Wahdaniyah
Allah. Mensucikan-Nya dari segala perbuatan dan sifat yang tidak layak lagi
bagi-Nya. Beriman kepada hari akhir, hisab, neraka dan surga. Setiap Nabi
mengajak kaumnya untuk mengimani semua perkara tersebut. Masing-masing dari
mereka datang sebagai pembenaran atas dakwah sebelumnya. Sebagai kabar gembira
akan bi’tsah Nabi sesudahnya. Demikianlah bi’tsah mereka saling sambung
menyambung kepada berbagai kaum dan ummat. Semuanya membawa satu hakekat yang
diperintahkan untuk menyampaikan kepada manusia, yaitu dainunah Lillahi wahdah
(tunduk patuh kepada Allah semata). Inilah yang dijelaskan Allah dengan
firman-Nya :
“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah
diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan apa
yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu : tegakkanlah
agama, dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.” (QS Asy-Syura : 13)

Tidak mungkin akan terjadi perbedaan aqidah di antara dakwah-dakwah para
Nabi, karena masalah aqidah termasuk ikhbar (pengabaran). Pengabaran tentang
sesuatu tidak mungkin akan berbeda antara satu pengabar dengan pengabar
lainnya. Jika kita yakini kebenaran khabar yang dibawanya. Tidak mungkin
seorang Nabi diutus untuk menyampaikan kepada manusia bahwa Allah adalah salah
satu dari yang tiga (Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan). Kemudian
diutus nabi lain yang datang sesudahnya utuk menyampaikan kepada manusia bahwa
Allah Maha Satu. Tiada sekutu bagi-Nya. Padahal masing-masing dari kedua Nabi
tersebut sangat jujur. Tidak akan pernah berkhianat tentang apa yang
dikhabarkannya.

Dalam maslah syari’at yaitu penetapan hukum yang bertujuan mengatur kehidupan
masyarakat dan pribadi, telah terjadi perbedaan menyangkut cara dan julah
antara satu Nabi dengan Nabi lainnya. Karena syari’at termasuk dalam kategori
insya’ bukan ikhbar, sehingga berbeda dengan masalah aqidah. Selain itu
perkembangan jaman dan perbedaan ummat dan kaum akan berpengaruh terhadap
perkembangan syari’at dan perbedaannya. Karena prinsip penetapan hukum
didasarkan pada tuntunan kemashlahatan manusia di dunia dan akhirat. Di samping
bi’tsah setiap Nabi sebelum Rasulullah saw adalah khusus bagi ummat tertentu,
bukan untuk semua manusia. Maka hukum-hukum syari’atnya hanya terbatas pada
ummat tertentu, sesuai dengan kondisi ummat tersebut.

Musa as, misalnya diutus kepada bani Israil. Sesuai dengan kondisi bani
Israil pada waktu itu. Mereka memerluka syari’at yang ketat yang seluruhnya
didasarkan atas azas ‘azimah bukan rukhshah. Setelah beberapa kurun waktu ,
diutuslah Nabi Isa as, kepada mereka dengan membawa syari’at yang agak longgar,
bila dibandingkan dengan syari’at yang dibawa oleh Nabi Musa. Perhatikan firman
Allah saw melalui Isa as yang ditunjukkan kepada Bani Israil :
” … Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan
untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu … ” QS Ali
Imran , 3 : 50

Nabi Isa as menjelaskan kepada mereka, bahwa menyangkut masalah-masalah
aqidah, ia hanya membenarkan apa yang telah tertera di dalam kitab Taurat,
menegaskan dan memperbaharui dakwah kepadanya. Tetapi menyangkut masalah
syari’at dan hukum halal haram, maka ia telah ditugaskan untuk mengadakan
beberapa perubahan dan penyederhanaan, dan menghapuskan sebagian hukum yang
pernah memberatkan mereka.

Sesuai dengan ini, maka bi’tsah setiap Rasul membawa Aqidah dan syari’at.

Dalam masalah aqidah, tugas setiap Nabi tidak lain hanyalah menegaskan
kembali (ta’lid) aqidah yang sama yang pernah dibawa oleh para Rasul
sebelumnya, tanpa perubahan atau perbedaan sama sekali.

Dalam masalah syari’at, maka syari’at setiap Rasul menghapuskan syari’at
sebelumnya, kecuali hal-hal yang ditegaskan oleh syari’at yang datang kemudian,
atau didiamkannya. Ini sesuai dengan madzhab orang yang mengatakan : Syari’at
sebelum kita adalah syari’at bagi kita (juga) selama tidak ada (nash) yang
dapat menghapuskan.

Dari uraian di atas, jelas tidak ada apa yang disebut orang dengan Adyan
Samawiyah (agama-agama langit ) Yang ada adalah Syari’at-syari’at Samawiyah
(langit), di mana setiap syari’at yang baru menghapuskan syari’at sebelumnya,
sampai datang syari’at terakhir yang dibawa oleh penutup para Nabi dan Rasul.

Ad-Dienul Haq hanya satu, Islam. Semua Nabi berdakwah kepadanya, dan
memerintahkan manusia untuk tunduk (dainunah) kepadanya, sejak Nabi Adam as
sampai Muhammad saw.

Nabi Ibrahim , Ismail, dan Ya’kub diutus dengan membawa Islam. Firman Allah :
“Dan tiada ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang-orang yang
memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh kami telah memilihnya di dunia, dan
sesungguhnya dia di akherat benar-benar termasuk orang-orang yang shaleh.
Ketika Rabbnya berfirman kepadanya : “Tunduk patulah!” Ibrahim menjawab : “Aku
tunduk patuh kepada Rabb semesta alam”. Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan
itu kepada anak-anaknya, demikian pula Nabi Ya’kub (Ibrahim berkata) ,”Hai
anak-anakku ! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu maka janganlah
kami mati kecuali dalam memeluk Islam.” QS al-Baqarah 130-132

Musa as diutus kepada Bani Israil juga dengan membawa Islam. Firman Alah
tentang tukang-tukang sihir Fir’aun :
“Ahli sihir itu menjawab : “Sesungguhnya kepada Rabb kamilah kami kembali.
Dan kamu tidak membalas dendam dengan menyiksa kami, melainkan karena kami
telah beriman kepada ayat-ayat Rabb kami ketika ayat-ayat itu datang kepada
kami.” (Mereka berdo’a) “Wahai Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami,
dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).” QS al-A’raf :
126

Demikian pula Isa as. Ia diutus dengan membawa Islam. Firman Allah swt :
“Maka ketika Isa mengetahui keingkaran dari mereka (Bani Israil), berkatalah
dia ,“Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama
Allah)?“ Maka hawariyyin (sahabat-sahabat setia ) menjawab :“Kamilah
penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada-Nya, dan saksikanlah bahwa
sesungguhnya kami adalah orang-orang Muslim.“ QS Ali Imran , 3:52

Mungkin timbul pertanyaan, mengapa orang-orang yang menganggap dirinya
pengikut Musa as menganut aqidah yang berbeda dari aqidah Tauhid yang dibawa
oleh para Nabi ? Mengapa orang-orang yang menganggap dirinya pengikut Isa as
meyakini aqidah lain ?

Jawaban atas pertanyaan ini terdapat di dalam firman Allah swt :
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam, tiada
berselisih orang-orang yang telah diberi al-Kitab, kecuali setelah datang
pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka ….”.
QS Ali Imran , 3:19

“Dan mereka (ahli kitab) tidak berpecah belah melainkan sesudah datangnya
pengetahuan kepada mereka karena kedengkian di antara mereka. Kalau tidaklah
karena suatu ketetapan yang telah ada dari Rabbmu dahulunya (untuk menangguhkan
siksa) sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan.
Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka al-Kitab (Taurat dan
Injil) sesudah mereka, benar-benar dalam keraguan yang mengguncangkan tentang
kitab itu.” QS Asy-Syura : 14

Dengan demikian semua Nabi diutus dengan membawa Islam yang merupakan agama
di sisi Allah. Para ahli kitab mengetahui kesatuan agama ini. Mereka juga
mengetahui bahwa para Nabi diutus untuk saling membenarkan dalam hal agama yang
diutusnya. Mereka (para Nabi) tidak pernah berbeda dalam masalah aqidah. Tetapi
para ahli Kitab sendiri berpecah belah dan berdusta atas nama para Nabi,
kendatipun telah datang pengetahuan tentang hal itu kepada mereka, karena
kedengkian di antara mereka, sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah di atas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s