Perihal Serangan Abrahah (Pasukan Gajah) ke Baitullah dan Allah Menggagalkannya (2)

Baitullah Mempunyai Tuhan yang Memeliharanya

lbnu lshaq berkata, “Abdul Muththalib adalah orang yang paling tam-

pan, dan paling agung. Ketika Abrahah melihatnya, ia memuliakannya, mengagungkannya, dan menghormatinya dengan tidak menyuruhnya duduk di bawahnya. Abrahah tidak suka dilihat orang-orang Habasyah mendudukkan orang lain di atas singgasananya. Oleh karena itu, ia turun dari singgasananya, kemudian duduk di atas permadaninya dan mendudukkan Abdul Muththalib di sebelahnya.

Abrahah berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepadanya (Abdul Muththalib), ‘Apa keperluanmu.”

Penerjemah Abrahah menjelaskan ucapan Abrahah kepada Abdul Muththalib, kemudian Abdul Muththalib berkata, “Keperluanku ialah hendaknya raja Abrahah mengembalikan dua ratus ekor unta yang dirampasnya dariku.”

Usai penerjemah Abrahah menjelaskan keperluan Abdul Muththalib kepada Abrahah, Abrahah berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepadanya, ‘Sesungguhnya aku kagum kepadamu ketika aku melihatmu, kemudian aku tidak mau berbicara banyak kepadamu ketika engkau berkata kepadamu. Apakah engkau membicarakan dua ratus ekor unta yang aku rampas darimu dan engkau meninggalkan rumah yang tiada lain adalah agamamu dan agama nenek moyangmu, padahal aku datang untuk menghancurkannya dan engkau sedikit pun tidak menyinggungnya?’”

Abdul Muththalib berkata kepada Abrahah, “Sesungguhnya aku adalah pemilik unta, dan rumah tersebut mempunyai Pemilik yang akan melindunginya.’

Abrahah berkata, “Ia tidak layak menghalang-halangiku.” Abdul Muththalib berkata, “Itu terserah antara engkau dengan-Nya.”

Utusan Yang Menyertai Abdul Muththalib

Menurut pendapat sebagian ulama, ketika Abdul Muththalib menemui Abrahah bersama dengan Hanathah, Abdul Muththalib ditemani Ya’mur bin Nufatsah bin Adi bin As-Dual bin Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah pemimpin Bani Bakr, dan Khuwailid bin Watsilah Al-Hudzali pemimpin Hudzail.  Keduanya menawarkan siap memberikan sepertiga kekayaan Makkah kepada Abrahah dengan konpensasi Abrahah pulang ke negerinya dan tidak menghancurkan Baitullah.

Abrahah menolak tawaran keduanya. Allah yang lebih tahu apakah keduanya jadi memberil-can sepertiga kekayaan Makkah kepadanya atau tidak. Kemudian Abrahah mengembalikan dua ratus ekor unta kepada Abdul Muththalib yang telah dirampasnya.

Abdul Muththalib Memerintahkan Orang-orang Quraisy Keluar dari Makkah

Usai ketiganya bertemu dengan Abrahah, Abdul Muththalib menemui orang-orang Quraisy dan menjelaskan permasalahan yang sesungguhnya. la perintahkan mereka keluar dari Makkah, dan berlindung diri di puncak gunung, dan syi’b (jalan di antara dua gunung), karena khawatir mendapatkan gangguan dari pasukan Abrahah.

Setelah itu, Abdul Muththalib mengambil rantai pintu Ka’bah dan berdoa dengan beberapa orang Quraisy kepada Allah dan meminta pertolongan-Nya atas Abrahah dan pasukannya.

Abdul Muththalib berkata sambil memegang rantai Ka’bah,

Ya Allah, sesungguhnya seorang hamba telah melindungi pelananya

Maka linndungilah Rumah-Mu

Ya Tuhan, salib mereka tidak akan mengalahkan-Mu besok pagi

Karena hanya Engkaulah Yang Mahakuat

Jika Engkau membiarkan mereka dan kiblat kami

Maka itu karena sesuatu yang telah Engkau inginkan sebelumnya

Ibnu Hisyam berkata, “Itulah perkataan yang dikatakan Abdul Muththalib.”

Doa lkrimah bin Amir kepada Al-Aswad

Ibnu lshaq berkata bahwa Ikrimah bin Amir bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abduddar bin Qushai berkata,

Ya Allah, hinakan Al-Aswad bin Mas’ud

Orang yang telah merampas dan memotong unta betina yang banyak air susunya dalam keadaan terikat

Ia menahannya di antara Gunung Hira’ dan Gunung Kabir; serta padang pasir

Padahal biasanya unta-unta tersebut bebas pergi ke mana ia suka

Kemuadian ia menyatukan unta-unta tersebut kepada orang-orang Sudan

Ya Tuhan, gagalkan rencananya, karena Engkau Maha Terpuji

Ibnu Hisyam berkata, “ltulah ucapan yang benar yang diucapkan Ikrimah.”

Ibnu Ishaq berkata, “Setelah berdoa, Abdul Muththalib melepaskan rantai pintu Ka’bah, lalu bersama dengan beberapa orang-orang Quraisy, ia pergi ke puncak gunung untuk berlindung di dalamnya dan menunggu apa yang akan diperbuat Abrahah terhadap Makkah jika ia telah memasukinya.”

Serangan Abrahah dan Penolakan Gajah

Esok harinya, Abrahah bersiap-siap untuk memasuki Makkah. la menyiapkan gajah-gajahnya, dan memobilisir pasukannya. Gajah Abrahah bemama Mahmud. la membulatkan tekatnya untuk menghancurkan Ka’bah, kemudian pulang ke Yaman. Ketika Abrahah dan pasukannya telah mengarahkan gajahnya masing-masing ke Makkah, tiba-tiba Nufail bin Habib Al-Khats’ami tiba, kemudian berdiri di samping gajah Abrahah, Mahmud, dan membisikkan kepadanya, “Duduklah wahai Mahmud, atau pulanglah dengan damai ke tempatmu semula, karena sesungguhnya’ engkau ‘sekarang berada di tanah haram!”

Nufail bin Habib melepaskan telinga Gajah Mahmud dan gajah itu pun duduk. Setelah itu, Nufail bin Habib pergi dan naik ke gunung. Pasukan Abrahah memukul Gajah Mahmud agar berdiri, namun ia menolak berdiri. Mereka memukul Gajah Mahmud dengan mencucuk lambungnya agar berdiri, namun ia tetap menolak berdiri. Mereka memasukkan mihjan (tongkat yang berkeluk kepalanya) ke bawah perutnya dan mengiris perutnya dengannya agar berdiri, namun gajah Mahmud tetap rnenolak berdiri. Mereka menghadapkan gajah Mahmud ke arah Yaman, ternyata ia langsung berdiri dan berlari. Mereka menghadapkan lagi Gajah Mahmud ke arah Syam, ternyata berdiri dan berlari. Mereka menghadapkan Gajah Mahmud ke arah timur, iapun berdiri dan lari seperti sebelumnya. Mereka menghadapkannya ke Makkah, namun ia menolak berdiri.

Hukuman Allah kepada Abrahah

Kemudian Allah Ta ala mengirim untuk Abrahah dan pasukannya burung-burung seperti burung layang-layang dan burung balsan (sejenis burung Hung) dari arah laut. Setiap burung membawa tiga batu; satu batu di paruhnya, dan dua batu di kedua kakinya. Batu-batu tersebut mirip kacang dan adas.

Jika batu tersebut mengenai salah seorang dari pasukan Abrahah, ia pasti tewas, namun tidak semuanya dari mereka terkena batu tersebut. Mereka lari kocar-kacir, berebutan mencari jalan yang telah dilaluinya, dan mencari-cari Nufail agar ia menunjukkan jalan ke arah Yaman.

Allah SWT Mengingatkan Peristiwa Gajah di dalam Al-qur’an

Ibnu Ishaq berkata, ” Ketika Allah Ta’ala mengutus Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam sebagai Nabi dan Rasul, maka di anatara nikmat yang diberikan Allah ekpada orang-orang Quraisy ialah bahwa Allah menghalau rencan orang-orang Habasyah terhadap mereka karena keabadian hak mereka. Allah Tabarak wa Ta’ala berfirman,

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” (Al-Fiil: 1-5)

Allah Ta’ala berfirman,

“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah).Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (Quraisy: 1-5)

Maksudnya, agar sedikitpun tidak ada perubahan pada mereka, karena Allah menghendaki kebaikan pada mereka jika mereka menerima kebaikan tersebut.  (sy42-Ibn Hisyam 1:37-43)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s