Shalat Sunah Mutlak

Shalat sunah muthlaq ialah sunah yang boleh dikerjakan pada waktu kapan saja, kecuali waktu yang terlarang untuk mengerjakan shalat sunah. Jumlah rakaatnya tidak terbatas.
Shalat sunah muthlaq yakni sunah yang tidak bersebab, bukan karena masuk masjid, bukan karena shalat qabliyah atau ba’diyah shalat fardhu, dan yang lainnya.
Shalat ini semata-mata shalat sunah muthlaq, kapan pun dan di mana pun dapat dikerjakan, asal jangan waktu haram.

Adapun waktu-waktu yang diharamkan untuk mengerjakan shalat sunah adalah:

  1. Waktu matahari sedang terbit hingga naik setombak/lembing.
  2. Ketika matahari berada tepat di puncak ketinggiannya hingga tergelincirnya. Kecuali pada hari Jumat ketika orang masuk masjid untuk mengerjakan shalat tahiyyatul-masjid.
  3. Sesudah shalat asar sampai terbenam matahari.
  4. Sesudah shalat subuh hingga terbit matahari agak tinggi.
  5. Ketika matahari sedang terbenam sampai sempurna terbenamnya.

Lafazh niatnya sebagai berikut:

Ushallii sunnatar rak’ataini lillaahi ta’aalaa. Allaahu akbar

Artinya: “Aku niat shalat sunah dua raka’at karena Allah. Allaahu akbar.”

Shalat sunah tidak terbatas, beberapa saja yang sanggup kita laksanakan, dan tiap-tiap dua raka’at satu salam

8 comments on “Shalat Sunah Mutlak

  1. Assalamu’alaikum wr wb
    Mohon bantuanya, saya ada memposting artikel tentang shalat sunnah mutlak tetapi belum menemukan hadis yang berkaitan langsung. Apakah ibhe pernah menemukan hadits Rasulullah SAW melakukan shalat mutlak dan disaksikan oleh para sahabat??
    Jazakallah khairan katsiran

  2. Waktu-waktu yang dilarang untuk mengerjakan shalat

    Dari Uqbah bin Amir radhiyallaahu anhu beliau berkata :

    “Tiga waktu yang Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam melarang kami untuk mengerjakan shalat atau menguburkan orang mati pada waktu tersebut :

    1. Ketika terbit matahari dalam keadaan terang hingga meninggi

    2. Waktu ketika orang berdiri tegak tidak memiliki bayangan hingga condongnya matahari ke arah barat

    3. Ketika matahari mengalami proses untuk tengegelam hingga hilangnya bulatan matahari di ufuk barat” (Shahih, HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah)

    Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam menjelaskan alasan pelarangan waktu-waktu ini dalam sabdanya kepada Amr bin Abasah :

    “Tegakkanlah sholat shubuh kemudian berhentilah mengerjakan sholat, hingga matahari terbit dan agak meninggi, karena terbitnya matahari pada waktu itu di antara dua tanduk setan, dan ketika itu [sebagian] orang-orang kafir [penyembah matahari] sujud kepada matahari, kemudian setelah itu kerjakankah sholat, karena sesungguhnya sholat pada waktu itu disaksikan dan dihadiri [oleh malaikat], hingga hilangnya bayang-bayang pada sebuah tombak, kemudian tahanlah diri dari mengerjakan sholat, karena saat itu neraka jahannam sedang dibakar, kemudian jika telah muncul bayang-bayang maka kerjakanlah sholat [sunnah] karena sesungguhnya sholat pada waktu itu disaksikan dan dihadiri [oleh malaikat], hingga engkau mengerjakan sholat ashar, kemudian berhentilah mengerjakan sholat sampai matahari benar-benar tenggelam, karena waktu itu tenggelamnya matahari diantara dua tanduk setan, dan pada saat itu orang-orang kafir [penyembah matahari] bersujud menyembah matahari. (Shahih, HR. Muslim)

    Sholat apa yang dimaksud dalam hadits-hadits di atas?

    Ini adalah perkara yang diperselisihkan. Ulama berpendapat :

    1. Semua sholat.

    2. Sholat sunnah mutlaq, yaitu sholat sunnah yang tidak terikat waktu. Sebagaimana kita ketahui, sholat sunnah ada dua macam [1] Sholat Sunnah Muthlaq [2] Sholat Dzatul Asbab, yaitu sholat yang dikerjakan karena sebab, seperti : sholat tahiyyatul masjid, sholat sunnah wudhu’, sholat dhuha, dan sebagainya. Maka dari dua jenis sholat sunnah ini, yang terlarang untuk dikerjakan pada waktu-waktu di atas hanyalah sholat sunnah muthlaq. Dan inilah pendapat yang rajih dan dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dengan tetap menghormati pendapat pertama.

    Termasuk sholat yang boleh dikerjakan pada waktu-waktu terlarang adalah sholat fardhu yang dikerjakan terlambat, karena adanya udzur seperti tertidur. Misalnya, seseorang yang terbangun pada saat matahari pada saat proses terbit, maka boleh baginya mengerjakan sholat untuk mengganti sholat shubuh tanpa harus menunggu selesainya matahari terbit.

    Lamanya waktu terlarang sholat

    Perlu diketahui bahwa waktu ketika proses matahari terbit dan tenggelam, dan pada saat berada di tengah-tengah (pada titik kulminasi) hanya beberapa menit saja (hanya 1 derajat = 4 menit dalam ilmu falak), sehingga untuk menunggunya tidak lama.

    Berkaitan dengan hadits Amr bin Abasah, terdapat tambahan waktu terlarang, yaitu selepas shalat shubuh dan selepas sholat Ashar. Inilah waktu yang panjang.

    Penjelasan mengenai dua tanduk setan dan perilaku penyembah matahari

    Yang dimaksud dengan dua tanduk setan, adalah dua tanduk iblis. Dan ini dalil bahwa iblis memiliki dua tanduk, dan ketika matahari sedang terbit maupun tenggelam, iblis mendatangi matahari sehingga seolah-olah matahari terbit di antara dua tanduknya. Hadits ini menjadi dalil pula bahwa sebagian manusia ada yang menyembah matahari. Kenyataan juga menunjukkan akan adanya hal ini. Dan hadits ini menunjukkan bahwa orang-orang kafir yang menyembah matahari hakikatnya adalah menyembah setan.

    Seputar mukholafatul kuffar

    Hadits ini menjadi dalil bahwa menyerupai orang kafir adalah terlarang, meskipun hal itu dilaksanakan dengan tidak ada niat untuk menyerupai orang kafir. Dan tidak bisa kita bayangkan ada seorang muslim yang mengerjakan sholat di saat matahari terbit dengan niat untuk menyerupai orang kafir. Tidak mungkin ada. Maka seandainya sholat pada saat matahari terbit terlarang hanya bagi seorang muslim yang memiliki niat untuk menyembah matahari, hadits ini sia-sia dan tidak ada manfaatnya. Karena tidak mungkin ada.

    Oleh karena itu, Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rahimahullah menyimpulkan bahwa menyerupai orang kafir adalah terlarang, meskipun tidak ada niat untuk menyerupai orang kafir. Sebagian orang berpendapat bahwa menyerupai orang kafir hanya terlarang jika ada niat, dengan dalil hadits “innamal a’maalu bin niyat”. Maka hal ini tertolak dengan berbagai hadits yang melarang menyerupai orang kafir.

    Aqidah ahlussunnah : Neraka sudah diciptakan

    Hadits ini menjadi dalil bagi aqidah ahlussunnah bahwa neraka sudah diciptakan. Bantahan bagi aqidah mu’tazilah yang meyakini bahwa neraka baru diciptakan setelah kiamat terjadi.

    Hadits ini juga menjelaskan mengapa pada saat matahari berada di tengah-tengah, udara menjadi sangat panas. Jawabnya adalah karena pada saat itu neraka sedang dibakar.

    Dianjurkannya sholat sunnah muthlaq

    Hadits ini menjadi dalil disyariatkannya sholat sunnah muthlaq. Karena lafadznya “Kemudian setelah itu kerjakankah sholat, karena sesungguhnya sholat pada waktu itu disaksikan dan dihadiri [oleh malaikat]“. Nabi tidak membatasi berapa jumlah rakaat. Ini menjadi dalil bagi disyariatkannya sholat sunnah muthlaq.

    Kesimpulan waktu-waktu terlarang sholat

    Kesimpulannya, waktu yang terlarang untuk sholat ada 5 :

    1. Ketika matahari dalam proses terbit

    2. Ketika matahari berada di tengah-tengah

    3. Ketika matahari dalam proses tenggelam. Tiga waktu ini adalah waktu yang singkat.

    4. Setelah selesai sholat Shubuh

    5. Setelah selesai sholat Ashar. Dua waktu ini adalah waktu yang panjang.

    Larangan mengerjakan sholat di atas dikecualikan bagi tempat dan waktu berikut :

    1. Waktu yang dikecualikan yaitu pada saat matahari berada di tengah-tengah pada hari Jum’at. Berdasarkan hadits Nabi shallallaahu alaihi wa sallam: “Tidaklah seseorang itu mandi pada hari Jum’at kemudian ia membersihkan diri sebersih mungkin, dan ia memakai minyak [rambut], danm emakai minyak wangi yang ada di rumahnya, kemudian ia keluar menuu masjid dan tidak memisahkan [melangkah] antara dua orang (kecuali jika dua orang ini tidak mau mengisi shaf yang kosong di depannya -ed), kemudian ia sholat sebanyak yang telah ditetapkan (sebanyak mungkin), kemudian ia diam ketika imam telah berkhutbah, maka Allah akan memberikan ampunan baginya, antara hari Jum’at itu hingga Jum’at berikutnya.” (Shahih, HR. Bukhari) Maka Nabi menganjurkan untuk mengerjakan sholat sebanyak-banyaknya, dan tidak melarangnya kecuali ketika imam telah datang. Oleh karena itu beberapa ulama salaf diantaranya Umar bin Al-Khattab radhiyallahu anhu, dan diikuti oleh Imam Ahmad bin Hanbal : “Datangnya Imam mencegah shalat, dan khutbahnya imam mencegah berbicara [selain khutbah]” Maka mereka (para salaf) menetapkan bahwa yang mencegah sholat sunnah adalah datangnya imam, dan bukan pertengahannya siang.

    2. Tempat yang dikecualikan yaitu Makkah, semoga ALlah menambahkan kemuliaan dankeagungan kota tersebut, maka tidak dimakruhkan sholat pada waktu manapun dari waktu-waktu terlarang tersebut. Dalilnya adalah sabda Nabi shollallaahu alaihi wa sallam : “Wahai Bani Abdi Manaf, janganlah kalian menghalangi seorangpun untuk thowaf di rumah ini (Baitullah) dan sholat di waktu kapanpun baik malam maupun siang” (Shahih, HR. Ibnu Majah, Tirmidzi, dan Nasa’i)

    Dan sholat yang terlarang pada waktu-waktu di atas ialah sholat tathawwu’ (sunnah) muthlaq yang tidak memiliki sebab atasnya, sedangkan sholat Qadhaul Fawaid, yaitu pengganti baik itu untuk sholat wajib maupun nafilah, berdasarkan sabda Nabi shollallaahu alaihi wa sallam :

    “Barangsiapa yang terlupa satu sholat maka hendaklah ia sholat pada saat ia ingat, tidak ada kafarah bagi sholat tersebut kecuali sholat di waktu itu” (Muttafaq ‘alaih)

    Sebagimana bolehnya mengerjakan sholat setelah wudhu’ di waktu kapanpun, berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu : Dari Nabi shallallaahu alaihi wa sallam beliau berkata kepada Bilal setelah sholat Shubuh, “Wahai Bilal beritahukan kepadaku suatu amalan yang paling engkau andalkan dalam Islam, karena sesungguhnya aku mendengar suara dua sandalmu ada didepanku di surga (dalam mimpi beliau -pent)”. Bilal pun berkata, “Tidak ada satu amalan yang aku andalkan daripada tidaklah aku berwudhu di waktu kapanpun baik di waktu malam maupun siang, kecuali aku sholat dengan wudhu’ tersebut sebanyak yang aku bisa lakukan”

  3. Ping-balik: Shalat Sunah Mutlak « Dien Islam

    • Dasar-dasar dalilnya sudah ada Shalat Sunnah Mutlaq

      Disunnahkan melakukan shalat sunnah pada setiap waktu baik malam maupun siang kecuali di waktu-waktu yang terlarang. Waktu-waktu terlarang tersebut ada lima waktu yaitu:

      Pertama, setelah terbit fajar kedua sampai terbit matahari, kecuali shalat subuh dan rawatibnya . Sebagaimana hadist Ibnu Umar , Rasulullah bersabda, “jika fajar telah terbit maka tidak ada shalat kecuali dua rekaat fajar” [Ahmad (4695), Abu Dawud (1278), Tirmidzi (419)]

      Kedua, setelah matahari terbit sampai ia meninggi sekitar satu tombak. Uqbah bin Amir berkata, “Tiga waktu yang mana Rasulullah melarang shalat padanya atau mengubur mayit padanya: saat terbit matahari sampai meninggi, saat tengah siang sampai matahari bergeser, saat matahari mulai terbenam sampai sempurna terbenam” [Muslim (831)]

      Ketiga, matahari tepat ditengah langit sampai ia bergeser [Idem no 15]

      Keempat, setelah shalat ashar sampai magrib. Tidak ada shalat setelah fajar sampai matahariterbit, dan tidak ada shalat setelah ashar sampai matahar terbenam [Dari hadist Abu Sa’id al Khudri, Bukhari (586), Muslim (827)]

      Kelima, saat matahari mulai tenggelam sampai tenggelam sempurna [Idem no 15]

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s