Hadits: Abu Bakar Bergelar Shiddiq Palsu?

Nama dan nasab Abu Bakar Ash-Shiddiq

Abu Bakar Ash-Shiddiq, khalifah pertama rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Namanya adalah Abdullah bin Abi Quhafah, Utsman bin Amir bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Tamim bin Murroh bin Ka’ab bin Lu’ai bin Ghalib Al-Qurasyi At-Taimi (lihat Tarikh Khulafa’, karya Imam Suyuthi 1/10)

Berkata Imam Nawawi dalam kitab Tahzibnya: “dan apa yang telah kami sebutkan bahwa nama Abu Bakar adalah Abdullah itulah pendapat yang benar dan masyhur. Ada juga yang mengatakan namanya adalah ‘Atiq, akan tetapi yang benar adalah yang dipegang oleh keseluruhan (mayoritas) Ulama bahwa ‘Atiq hanya julukan Abu Bakar bukan namanya, (dijuluki dengan ‘Atiq) karena Abu Bakar telah di jamin bebas dari api neraka sebagaimana hadits yang diriwayatkan Tirmidzi. Adapula yang mengatakan karena ketampanan wajahnya, pendapat inilah yang dipilih Mush’ab bin Zubair, Laits bin Sa’ad, dan sekelompok ulama. Adapula yang mengatakan karena pada nasabnya tidak ada sesuatu yang tercela. (lihat Tarikh Khulafa’, karya Imam Suyuthi 1/10)

Fadhail Abu Bakar Ash-Shiddiq

Abu Bakar Ash-Shiddiq memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Oleh karenanya, para shahabat sepakat menunjuknya sebagai khalifah, pemimpin kaum mukminin selepas meinggalnya rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Kelebihan yang dimiliki Abu Bakar Ash-Shiddiq bisa kita saksikan lewat kitab-kitab sejarah ulama’ Ahlussunnah wal jama’ah. Tanpa adanya berlebih-lebihan dalam memuji Abu Bakar Ash-Shiddiq, berikut ini akan kami sebutkan sebagian dari keutamaannya:

1. shahabat pertama yang masuk islam secara mutlak, atau dari kalangan laki-laki dewasa.

2. Ketika terjadi peristiwa Isra’ dan Mi’raj, Abu Bakarlah diantara shahabat nabi yang paling teguh keimanannya dan menjawab syubuhat-syubuhat yang dilontarkan kafir Quraisy ketika itu.

3. Berhijrah bareng bersama rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam meninggalkan keluarga , anak, dan hartanya.

4. Menemai rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam di dalam gua sebagaimana di kisahkan dalam ayat: “

إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (40)

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) Maka Sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang Dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir Itulah yang rendah. dan kalimat Allah Itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah:40). Para ahli tafsir ahlussunnah sepakat bahwa yang dimaksud “ketika keduanya berada dalam gua” dalam ayat ini adalah rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakar Ash-Shiddiq.

5. Menggantikan rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai imam shalat ketika beliau sakit.

6. Memberantas para murtaddin (orang-orang yang murtad) selepas wafatnya rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sehingga keadaan menjadi tenang kembali.

7. Memberangkatkan pasukan Usamah untuk membuka negeri Syam karena menjalankan wasiat rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam di akhir hayatnya.

Dan masih banyak keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang lainnya, bagi yang ingin mengetahui lebih jelas bisa membaca buku-buku tarikh/sejarah yang telah di susun oleh ulama’ ahlussunnah wal jama’ah.

sebab dijuluki Ash-Shiddiq

Berkata Mush’ab bin Zubair dan yang lainnya: “Umat islam telah sepakat menggelari Abu Bakar dengan Ash-Shiddiq, karena ialah yang bersegera membenarkan rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan selalu berpegang dengan kejujuran…” (lihat Tarikh Khulafa’, karya Imam Suyuthi 1/10).

Ibnu Misdi menyebutkan bahwa gelar Ash-Shiddiq sudah ada sejak jaman Jahiliyyah karena dia dikenal dengan kejujurannya.”

Ada juga yang mengatakan: “Karena Abu Bakar selalu bersegera membenarkan berita-berita yang datang dari rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam .”

Berkata ibnu Ishaq dari Hasan Al-Bashri dan Qotadah: “Yang membuatnya lebih terkenal dengan gelar Ash-Shiddiq ialah pasca kejadian isra’ (perjalanan nabi ke baitul maqdis). Al-Hakim meriwayatkan dalam kitabnya “Al-Mustadrak” dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha: “Musyrikin Quraisy mendatangi Abu Bakar seraya bertanya: “bagaimana pandanganmu terhadap temanmu itu yang mengaku telah pergi ke baitul maqdis tadi malam.” Abu Bakar berkata: “apakah benar dia mengatakan itu?” mereka menjawab: “benar” Abu bakar menegaskan: “Sungguh dia telah benar dan aku membenarkannya. Lebih dari itu (aku juga yakin dengan) berita langit (wahyu) yang sampai kepadanya pada waktu pagi dan petang.” Oleh karena itu dia digelari Ash-Shiddiq.” Sanadnya bagus, hadits serupa juga diriwayatkan dari shahabat Anas bin Malik dan Ibnu ‘Abbas dan Ummu Hani’.

Inilah hujjah kami

Merupakan ciri khusus ahlussunnah wal jama’ah tidak pernah bertindak melainkan dengan dalil, baik dari Al-Qur’an dan hadits nabi dengan pemahaman para shahabat. Harus dengan pemahaman para shahabat karena mereka adalah umat yang khusus di bangkitkan untuk mendampingi Nabi besar kita, Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Tentu merekalah yang paling mengetahui maksud yang dikehendaki oleh Allah dalam Al-Qur’an dan rasululllah dalam haditsnya. Demikian pula dalam masalah yang sedang kita bicarakan ini.

Banyak riwayat dari nabi dan shahabatnya yang menunjukkan sahnya penyandaran Ash-Shiddiq kepada Abu Bakar, berikut beberapa diantaranya:

Berkata Sa’id bin Manshur dalam kitab Sunannya: “telah menceritakan kepada kami Abu Ma’syar dari Abu Wahb maula (bekas budak) Abu Hurairah, ia berkata: “Ketika rasulullah baru pulang dari Isra’nya , waktu itu beliau berada di Dzi Thuwa, beliau berkata: “Wahai Jibril, Sesungguhnya kaumku tidak membenarkanku!” Jibril menjawab: “akan membenarkanmu Abu Bakar, ia adalah Ash-Shiddiq.” Hadits ini juga diriwayatkan Ath-Thabarani secara bersambung dalam kitabnya, “Mu’jamul Ausath” dari Abu Wahb dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu.

Imam Hakim dalam kitabnya “Al-Mustadrak” meriwayatkan dari Nazzal bin Sabrah, ia berkata: “Kami pernah berkata kepada imam Ali, “wahai amirul mukminin, berilah kami berita perihal Abu Bakar!” imam Ali menjawab: “ia adalah seorang yang Allah juluki Ash-Shiddiq melalui lisan Jibril, dan nabi-Nya, Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Ia adalah khalifah rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.” Sanadnya bagus

Ad-Daraquthni dan Hakim meriwayatkan dari Abu Yahya, ia berkata: “Aku tidak dapat menghitung, berapa banyak aku mendengar imam Ali berkata diatas mimbar: “Sesungguhnya Allah telah menjuluki Abu Bakar melalui lisan nabi-Nya sebagai Ash-Shiddiq.”

Thabarani meriwayatkan dengan sanad yang bagus dan shahih dari Hakim bin Sa’ad, ia berkata: “Aku mendengar imam Ali berkata dan bersumpah bahwa Allah benar-benar menurunkan dari langit gelar Ash-Shiddiq untuk Abu Bakar.”

Al-Bukhari, Abu Daud, Tirmidzi, Nasai, Ahmad, dan lainnya meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa rasulullah pernah berkata kepada gunung Uhud yang ketika itu bergetar, “tenanglah wahai uhud, karena diatasmu ada nabi, shiddiq dan dua orang syahid.”

Itulah sebagian riwayat dari nabi dan imam Ali bahwa gelar Ash-Shiddiq bagi Abu Bakar diturunkan langsung dari sisi rabbul ‘alamin melalui lisan Jibril dan nabi besar kita, Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.

Bahkan ini merupakan kesepakatan kaum muslimin dari dahulu sampai sekarang, tidak ada yang mengingkarinya kecuali syi’ah rafidhah.

Perhatikanlah ucapan imam Ali diatas ….. bukankah kalian wahai syi’ah “pengikut ahlul bait”?! Bukankah imam Ali bagian dari ahlul bait? Mengapa kalian menyelisihinya??????

Tiada lain ini menunjukkan bahwa kecintaan kalian terhadap ahlul bait adalah kedustaan belaka.

Inilah syi’ah

Setelah kita mengetahui bahwa gelar shiddiq bagi Abu Bakar adalah sesuatu yang sah dan kita juga telah mengetahui bahwa gelar ini langsung diturunkan dari sisi rabbul ‘alamin kepada jibril dan nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Inilah keyakinan kaum muslimin dari dahulu sampai sekarang di seluruh penjuru dunia. Di Indonesia, kita lihat kaum muslimin tidak pernah memisahkan nama Abu Bakar dengan Ash-Shiddiq, kita bisa saksikan ini di setiap bulan ramadhan di sela-sela shalat tarawih mereka mengucapkan:

… الخالفة الأولى أبو بكر الصديق رضي الله عنه…

… khalifah pertama, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu anhu …. Para makmum pun segera menyambutnya dengan ucapan “radhiallahu ‘anhu” (yang telah diridhai Allah). Terlepas pas tidaknya kalimat ini diucapkan ketika shalat tarawih yang jelas kita bisa mengambil faidah bahwa memang kaum muslimin di seluruh penjuru dunia terkhusus di Indonesia mengakui keabsahan gelar Ash-Shiddiq bagi Abu Bakar.

Berbeda halnya dengan syi’ah dan antek-anteknya yang selalu menyelisihi kaum muslimin dari semua sisinya. Bahkan mereka menyelesihi Imam Ali. Jadi perlu kita ajukan pertanyaan kepada mereka, sebenarnya kalian itu mengikuti ahlul baitnya nabi atau ahlul baitnya Abdullah bin Saba‘ Al-Yahudi?

Tapi begitulah syi’ah, pinginnya buat hal-hal baru, jadi jangan heran jika para ulama’ islam mengeluarkan mereka dari bingkaian islam.

Pembaca rahimakumullah, akhir-akhir ini kaum syi’ah sangat gencar menyebarkan aqidah nyeleneh mereka di internet. Berbagai macam cara mereka tempuh, tidak lagi menghiraukan halal dan haram.

Kita ambil contoh untuk perkara ini, Ibnu Jakfari. coba anda buka blog berikut:

http://jakfari.wordpress.com/2007/11/11/hadis-abu-bakar-bergelar-shiddiq-palsu/

ini adalah blog pribadi seorang anak Jakfari. Dalam tulisan itu ia ingin menggiring pembaca menyimpulkan bahwa gelar shiddiq adalah palsu. Untuk lebih meyakinkan pembaca ia menampilkan hadits berikut:

ما فيالجَنَّةِ شَجَرَةٌ إلاَّ مَكْتُوبٌ عَلىَ كلِّ وَرَقَةٍ مِنها: لا إلهإلا الله ، مُحَمَّدٌ رسولُ الله ، أبو بكر الصِّدِّيْقُ ، عُمَرُالفَارُوْقُ ، عُثْمانُ ذُو النُّورَيْنِ.

Tiada pohon di surga kecuali tertulis di setiap daunnya, Tiada tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah, Abu bakar Shiddiq, Umar faruq (pemisah antara haq dan batil) dan Utsman adalah pemilik dua cahaya.

Kemudian dia menyebutkan takhrij (periwayatan) hadits yang berkesimpulan bahwa hadits diatas adalah lemah. karena haditsnya lemah, maka hukum yang terkandung didalamnya juga lemah.

Wahai Ibnu Jakfari, perlu anda ketahui! Kami selaku ahlussunnah mengakui kelemahan hadits tersebut, oleh karena itu kami tidak memakainya sebagai dalil/hujjah. Alhamdulillah, Ahlussunnah tidak pernah memakai hadits dha’if/lemah sebagai hujjah walaupun itu mendukung aqidah mereka. Semua yang mereka lakukan dari perkara agama selalu dibangun diatas dalil yang shahih, baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah (hadits nabi shalallahu ‘alaihi wasallam) tentunya dengan pemahaman para shahabat.

Yang lebih membuat “menarik” tulisan Ibnu Jakfar itu ialah, diawali dengan tuduhan dusta terhadap shahabat nabi dan di akhiri dengan pelecehan dua orang ulama’ kaum muslimin, Ibnu Katsir dan Khatib Al-Baghdadi.

nasehat

Mengingat besarnya fitnah syi’ah di negeri kita tercinta ini maka kami ingatkan kembali para pembaca untuk berhati-hati terhadap mereka. Jangan kita tertipu dengan manisnya bibir mereka atau indahnya tulisan mereka. ini pulalah nasehat ulama’ kita dari dahulu sampai sekarang. Bahkan mereka melarang kita menjadikan mereka teman duduk. Nas’alullah as-salamah

Semoga bermanfaat

http://haulasyiah.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s